Bagaimana membayar pengeluaran dengan investasi?
Judul yang aku tulis di atas sebenarnya agak aneh lho... !! Tapi gak semua orang memahami apa maksudnya sebelum aku jelaskan. Judul tadi sebenarnya merupakan pemikiran kemarin sore hasil diskusi sama istriku tercinta, yang selama ini tetap setia kepada Pemerintah RI dan bekerja sebagai pegawai negeri, sementara aku sudah 16 tahun jadi karyawan swasta yang merangkap jadi wiraswatawan karena rasa takut menghadapi hari tua yang tidak ada pensiuanannya kayak pegawai negeri. Sudah deh... gak usah dibahas soal pekerjaan, tapi kembali ke judul yang aku tuliskan di atas. Berdasarkan teori akuntansi, pengeluaran adalah biaya yang dibayarkan atas barang atau jasa yang dikonsumsi untuk menjalankan kegiatan operasional. Nah kalo investasi lebih dimaksudkan satu bentuk pembelian aset yang diharapkan mampu terus berkembang dan menghasilkan nilai ekonomis bagi pemilik aset tersebut yang biasanya disebut investor.
Ceritanya aku sederhanakan aja seperti ini; Kalo dalam urusan rumah tangga, seringkali membeli kendaraan jadi perdebatan, karena bisa dianggap sebagai investasi tapi juga bisa dianggap sebagai biaya. Nah sekarang tinggal bagaimana bisa di terjemahkan dengan pendekatan sebagai berikut;
Mobil itu untuk keperluan apa?
Kalo untuk disewakan atau mendukung aktivitas produktif lain, sebagai alat produksi, tentu saja mobil itu adalah investasi.
Kalo untuk digunakan untuk keperluan yang sifatnya konsumtif, misalnya untuk bergaya, untuk jalan-jalan dan untuk keperluan rumah tangga yang sifatnya non produktif, tentu saja harus disebut pengeluaran. Mungkin disini akan terjadi perdebatan, apakah kalo mobilnya dipake untuk kekantor dan antar anak sekolah, bisa disebut sebagai investasi? Maklum kan, kalo kekantor dan sekolah adalah aktivitas produktif juga ya. Jawabannya ada benarnya juga, tapi untuk alat transportasi kan gak harus mobil, bisa juga alat transportasi lain yang lebih murah secara ekonomis, sehingga akan sangat mendukung aktivitas produktif dengan leverage lebih baik. Masalahnya, kenapa untuk kekantor harus mobil mercedes, atau bmw yang terkenal mahal itu? Jika hal itu yang terjadi, maka mobil hanya jadi alat konsumtif karena hal hal berikut;
- Nilai mobil yang dibeli cenderung turun dari tahun ketahun, karena inflasi dan umur teknis maupun ekonomis yang cenderung turun.
- Biaya operasional kendaraan, seperti bensin, oli, service, pajak kendaraan, sopir, parkir, asuransi, dan lain sebagainya, merupakan pengeluaran yang melekat akibat adanya kendaraan tersebut.
- Semakin bagus mobil yang digunakan, maka ada kecenderungan semakin boros, karena gengsi menyebabkan kita sering menggunakan kendaraan itu untuk pamer dan kalo kasih uang parkir buat preman mesti agak banyak supaya timbul rasa aman.
Sekarang udah jelas kan, kalo mobil yang kita miliki itu masuk kategori yang mana? Kalo aku sih, aku anggap sebagai biaya aja, seperti yang dikatakan oleh Robert Kyosaki, maaf ya om Robert, namanya aku catut dulu, biar om Robert tambah ngetop.
Lantas menjawab pertanyaan pada judul di atas, bagaimana membiayai pengeluaran dengan investasi?
Ini adalah hal paling menarik yang mestinya mudah untuk dipahami, asalkan kita gak pusing mikirin urusah kantor yang gak pernah ada habisnya. Maklum, karena yang aku mau bicarakan adalah urusan diluar kantor, jadi buat yang pikirannya masih dikantor, lebih baik bacanya jangan diteruskan, nanti malah tambah pusing... . .. ini saran lho... kalo gak dituruti juga gak masalah sih, yang penting siapkan obat sakit kepala sebelum aku lanjutkan.
Awal mulanya sih, istriku ingin beli mobil yang agak mewah buat meningkatkan prestise dan prestasi katanya... .tapi karena aku lebih senang untuk investasi maka keinginan itu selalu terkubur bersama dengan konversinya... maksudnya setiap ada uang untuk beli mobil ... tahu-tahu .... berubah pikiran jadi beli ruko... he...he..he.... tentu saja mobilnya tetap beli tapi yang murah aja kali ya.... hingga akhirnya kemarin sore, saat sedang dikepung kemacetan... .. aku bicara tentang rencana pengembangan usaha buat studio foto yang sedang dibangun, serta buka cabang minimarket, salon, dan warnet dilokasi lain buat perluasan usaha. Saat itu istriku ingin supaya uang yang ada sekali-kali dipake untuk beli mobil yang agak keren biar bisa dinikmati gitu lho...! Tapi argumentasi soal mobil langsung menjawab ide sederhana yang sebenarnya sudah pernah dilakukan tapi tanpa disadari telah dinikmati selama ini... yakni... bahwa mobil Karimun Estilo tahun 2008, yang dibeli dua bulan lalu, sebenarnya kredit selama setahun yang dibiayai uang muka nya dari penjualan mobil Atoz, dan cicilannya Rp8.5juta dibayar oleh warnetku selama 12 bulan, setiap tanggal 12, menggunakan 12 lembar cek-giro dari rekening BNI milik warnet. Hebatnya lagi, dua orang supir yang kita gunakan juga di gaji oleh warnet ini masing-masing Rp 1juta per bulan. Dan terbukti bahwa hasil investasinya kan malah bisa membiayai kegiatan operasional ...!!
Tapi untuk kongkritnya ide itu dapat diuraikan sebagai berikut;
Saat ini istriku ingin beli mobil Toyota Alphard sedangkan aku ingin buka usaha baru.
Uang yang dimiliki = Rp0,-
Harga mobil yang akan dibeli = Rp500juta
Biaya operasional yang akan dikeluarkan setiap bulan akibat membeli mobil;
Supir : Rp1juta/bulan
Asuransi : Rp 25juta/tahun = Rp2juta per bulan
Service : Rp 1juta per bulan (ini asumsi aja ya, soalnya belum punya Alphard sih)
Bensin : Rp 2juta per bulan (ini juga asumsi sekali isi bensin 500rb, seminggu sekali)
Parkir dan lainnya : Rp500ribu per bulan
Total biaya operasional adalah : Rp5,5juta/bulan.
Untuk Investasi buka usaha baru, dalam hal ini, aku mau buka warnet aja deh... , aku butuhkan modal sebagai berikut:
Sewa gedung : Rp30juta per tahun, minimal 3 tahun = Rp 90juta
Jumlah PC yang harus dibeli : 30PC @ Rp5juta = Rp150juta.
Jumlah pegawai yang dibutuhkan : 4 orang @ Rp1juta = Rp4juta per bulan
Renovasi dan pemasangan AC, tambah daya listrik, dll. : Rp20juta,
Pembelian peralatan lain, dan modal kerja 2 bulan pertama : Rp 10juta
Total investasi yang dibutukan adalah : Rp 270juta
Buat ilustrasi, selama ini, pendapatan warnet bisa mencapai antara 1 sampai 1,5juta per hari, tapi kalo diambil angka rata-rata saja, misalnya Rp1,2juta perhari, maka sebulan diperoleh pendapatan paling sedikit Rp36juta.
Tapi karena aku tidak mau menggunakan uang sendiri, maka aku merencanakan untuk kredit tanpa agunan ke koperasi kantor ku, yang bisa memberikan kredit sampai Rp300juta dengan cicilan Rp6juta per bulan selama 5 tahun (60 bulan).
Kalo dihitung, maka dengan modal Rp300juta aku harus dapat mobil seharga Rp500juta... apakah ini mungkin?? Mari kita lanjutkan.....
Karena setiap bulan pendapatan warnet hasil investasi baru ini, cuman 36 juta, maka setelah dikurangi biaya pegawai yang 4juta per bulan, dan operasional lain seperti listrik, iuran keamanan, kebersihan, pajak penghasilan dll, maka total pengeluaran diperkirakan Rp9juta per bulan.. ini boros banget ya... tapi gak papa deh.. biar perhitungannya makin konservatif. Oh iya, belum lagi mesti dipotong cicilan utang setiap bulan yang nilainya Rp6juta, sehingga akhirnya akan diperoleh uang kas yang masuk rekening cuma Rp21juta per bulan, jadi mudah-mudahan bisa buat nutup cicilan mobil... mari kita lihat....
Harga mobil yang dibeli Rp500juta, kalo kredit mesti ada uang muka minimal 100juta yang bisa di bayar setelah warnet buka paling tidak 5bulan (5x 15juta perbulan = 75juta) ditambah dengan uang dari kelebihan pinjaman yang 300juta tadi, Cuma terpakai 270juta, jadi ada tambahan senilai 30juta. Lebih baik lagi kalo garasi dirumah udah gak muat, maka mobil yang ada mesti dijual juga kan, yang kemungkinan dijual adalah honda stream matic tahun 2002, yang harganya sekitar 125juta kalo diikumpulkan... .. .setidaknya aku akan punya uang sekitar Rp230juta .. ... alhamdulillah... ini artinya udah melewati batas minimal uang muka yang Rp100juta tadi, sekaligus meringkankan jumlah cicilan setiap bulannya kan....
Akhirnya dari perhitungan sederhana di atas, aku bisa kredit pada bulan ke ENAM dengan nilai sebesar Rp 500juta dikurangi uang muka sebesar Rp 230juta = Rp 270juta selama 5 tahun, dimana jumlah cicilannnya dengan tingkat bunga 14% per tahun maka aku harus bayar cicilan sekitar Rp6.3juta per bulan, atau kalo mau dipercepat selama 2 tahun (24bulan) saja maka aku harus bayar cicilan Rp13juta perbulan.
Dengan modal NOL rupiah... sekarang aku bisa beli mobil seharga Rp500juta, dimana cicilannya Cuma Rp13juta per bulan, plus buat nutup biaya operasional, sebesar Rp5.5juta seperti aku uraikan diatas. Akhirnya... aku masih punya sisa uang setidaknya Rp2,5juta buat piknik sama keluarga pake mobil Toyota Alphard yang baru...
Paling sedikit uraian di atas, pasti akan dipertanyakan... bahwa itu kan baru seandainya warnetnya langsung rame dan dapat income setidaknya sangat mujur, tapi kalo ternyata warnetnya sepi...??? Nah jawabannya adalah pada pengalaman kita sendiri dalam mengembangkan usaha bagaimana? Mulai dari memilih tempat, sampai membangun sistem dan melakukan promosi... kalo masalah ini nanti aku buat artikel sendiri berdasarkan pengalamana aja ya biar konkret....
Apakah hal ini bisa terjadi....?? Mari kita buktikan... tunggu aja tanggal 1 januari 2009, apakah aku sudah bisa beli Toyota Alphard.. .. .atau malah beli Mercedes Benz E240.... atau malah jadi gilaaa.... .ha...ha...ha.... pengennya sih malah lebih cepet lagi... dapat uang sekaligus dapat mobil dinas dari kantor... he..he..he...